Poster

Santa Ursula, sang martir, dirayakan setiap tahunnya pada tanggal 20 Oktober. Untuk memperingati hari santa Ursula, sekolah SMP ST. Ursula mengadakan pertandingan OR tapi antar SD di kota Bandung. Pertamdingan yang disebut Ursula Cup ini berlangsung dari tanggal 20 Oktober hingga 30 Oktober 2013. Sebagai penutupannya, sekolah mengadakan PENSI [PentasSeni] yang digelar pada tanggal 2 November 2013. PENSI berlangsung meriah. Dari pagi hingga malam pukul 11, dengan tema TechnoEcoLibrium.

Perayaan ini ditutup dengan bintang tamu kitaa!! ADERA! Selama mungkin 4 bulan, kami telah mengumpulkan dana untuk menggelar pensi ini. Pada mulanya, kami tidak percaya bahwa kami akan berhasil, tapi kenyataannya, kami sukses besar. Tiket2 terjual laris, kami tidak gagal memainkan peran kami di dalam pentas kali ini.

Dan poster disamping ini hanyalh sebuah kreasi tak bermakna. Alias tugas dari guru komputer yang nantinya harus dipost di blog yang udah pernah dibuat atau baru dibuat.

Thanks 🙂

Live In

Laporan perjalanan Live In

Berangkat

Hari Senin pukul 17.00, kami kumpul di sekolah. Setibanya kami di sekolah, kami langsung mulai bekerja. Pertama-tama, kami harus mencari handuk pesanan kami masing-masing. Lalu kami harus membungkusnya dengan terburu-buru karena dikejar waktu keberangkatan.

Akhirnya kami selesai membereskan seluruh keperluan sekitar pukul 18.30 dan kami berangkat sekitar pukul 19.30-an. Dengan membawa perlengkapan live in kami yang terkemas rapih di dalam tas ransel, kami masuk bis dan memulai perjalanan kami.

Perasaan nyaman, perasaan sedih, perasaan gembira dan perasaan tidak sabar berkecamuk di dalam hati. Namun perjalanan ini tidak mungkin dilupakan begitu saja.

 

Hari 1

Matahari terbit, dan kami masih berada dalam bis. Badan kami pegal-pegal. Mungkin tidurpun tidak nyenyak tapi kami tetap sabar menunggu. Kalau jam kamera saya tidak salah, berarti, kami tiba di gereja sekitar pukul 09.00 wib, dan tiba di rumah penduduk sekitar pukul 10.30 wib.

Kami dikumpulkan di gereja untuk diberi sambutan oleh panitia penyelenggara dari pihak sekolah maupun gereja atau desa tersebut. Setelah kata-kata sambutan, kami, anak-anak lingkungan St. Fransiscus adalah anak-anak yang pertama di usir dari gereja, meningat desa Bendo lingkungan St. Fransiscus  adalah daerah paling jauh.

Kami ke desa Bendo lingkungan St. Fransiscus naik mobil pick up. Setibanya di lokasi, Pa Suwono (ketua lingkungan), langsung menunjukan letak rumah kami masing-masing di bantu oleh Pa Anto yang mengantar beberapa anak menuju tempat mereka akan tinggal.

Setelah kami tiba di rumah masing-masing, kami boleh langsung memulai kegiatan kami di keluarga tersebut. Saya dan pasangan live in saya ketika masuk rumah, tidak tahu apa yang harus kami perbuat. Bapa kami hendak menjemput anaknya, sementara ibu angkat kami sedang bekerja di pabrik rokok. Jadi, kami bertanya pada bapa angkat kami “Ada yang dapat kami bantu pa?” dan bapa nya menjawab dengan tenang bahwa tidak ada pekejaan dan kami di minta menemui mbah kami di rumah sebelah. Jadi kami ke sana dan menanyakan pertanyaan yang sama dengan apa yang kami tanyakan pada bapa kami.

Setelah bertemu dengan mbah kami, kami langsung di suruh makan. Kami memang lapar, jadi kami tidak menolak.. Setelah makan kami bertanya pada Mbah adakah yang dapat kami bantu, lalu ia berkata bahwa kami boleh membantu mengupas ketela. Kami bersorak senang karena akhirnya ada pekerjaan.

Setelah memberi makan sapi, kami tidak tahu apalagi yang dapat kami bantu, Mbah menyuruh kami tidur, begitu pula dengan Pa Anto. Jadi, karena kami tidak ingin tidur, kami memilh untuk berjalan-jalan. Setelah berjalan beberapa lama, kami bertemu dengan teman-teman kami di bendungan. Jalan untuk ke bendungan sangatlah jauh, jalannya menurun, jadi artinya untuk naik kami harus menanjak. Di bendungan, kami bermain-main, foto-foto, dan momen-momen inilah yang akan kami kenang. Sekitar pukul 12.30, kami kembali ke atas maksudnya, kami mau pulang ke rumah masing-masing.

Tidak terduga bahwa perjalanan untuk naik saja memerlukan waktu selama 30 menit-an. Mungkin kalau kami tidak berhenti dulu, kami hanya akan memakan waktu sebanyak 15 menit.

Akhirnya, kami tiba di atas. Kami langsung berjanjian untuk pergi mandi bersama-sama, namun, setelah saya dan Audrey berpikir 2 kali, mungkin bukan suatu keputusan bijak untuk kembali ke rumah lalu turun lagi. Jadi, kami menunggu di rumah Geraldine. Tapi setelah itu, kami tetap saja pulang ke rumah dengan membawa 2 teman. Kami ke rumah hanya untuk minum dan saya berganti celana mengingat bahwa mungkin tidak terlalu bijak untuk mengenakan celana jeans di tengah siang bolong.

Setelah minum, kami balik lagi ke rumah Geraldine dan Vio uuntuk janjian, tapi bukannya janjian, kami malah mengobrol dengan Mbah Parno.Di tengah keasyikan mengobrol, seorang mbah lewat membawa djerigen air yang besar di punggungnya dan sebuah ember besar di tangannya. Kami dengan spontan langsung berlari mengejar Mbah tersebut. Namanya Mbah Sudi.

Kami mengantar Mbah Sudi ke sumur tempat mandi dan mencuci. Lalu kami membantu mbah nya menimba air dari 2 macam sumur. Saya sendiri ketagihan menimba jadi selama kami menunggu mbah-nya mandi, kami mengisi djerigennya.

Selesai sudah. Akhirnya kami balik ke rumah dengan memaksa mbah bahwa kamilah yang akan membawa djerigen airnya. Untuk pertama kali dalam hidup, saya mengangkat sesuatu seberat itu.. Setiap 5 langkah, kami bergantian membawa djerigen tersebut. Baru seperempat jalan saja, kami sudah benar-benar ngos-ngosan. Mbahnya sudah menawarkan diri untuk membawa djerigen tersebut, tapi kami berkata “setengah jalan lagi Mbah..” Dan kami memang benar berhenti setengah jalan kemudian. Sangat berat dan sangat  jauh. Untuk pergi ke sumur aja kalau di hitung-hitung sudah 2 km bolak-balik.

Setelah mendapatkan pengalaman kedua, kami beistirahat di rumah Geraldine, yang letaknya paling dekat dengan pos kamling. Setelah itu kami, saya dan Audrey,  kembali pulang, mengambil minum dan saat itulah kami bertemu dengan ibu dan Alan, anak mereka berumur 9 tahun.

Kami tidak begitu lama di rumah karena setelah berkenalan dengan Alan, kami pergi turun lagi mengajak Alan berjalan-jalan. Kami juga mengajak Geraldine dan Vio yang mengajak Ani pergi berkeliling. Kami memutuskan untuk pergi berkunjung dan menemui Bimo dan Bernard, tapi setelah perjalanan yang cukup jauh, kami memutuskan untuk menemui Nadya dan Ivy. Namun, kami tidak tahu di mana letak rumahnya, jadi kami tetap melanjutkan perjalanan ke rumah Bimo, dan bukannya bertemu dengan Bimo, kami malah bertemu Pa Yohanes dan Pa Thrispin.

Di rumah Bimo, kami bermain dulu sebentar karena kebetulan itu ruumah pa ketua lingkungan dan ada gamelannya.. Kami tidak lama di sana karena sebentar lagi kami harus mandi.

Jadi, sekitar pukul 15.30-an, kami bersama-sama pergi ke sumur untuk mandi. Kami mandi dan mencuci baju bersama.. Bercanda dan mengelabui teman.. Sangat asyik melakukan itu semua bersama-sama.

Setelah mandi, kami kumpul di pos kamling untuk pergi bersama– sama dengan teman-teman yang lain menuju rumah yang ditempati oleh Pa Thrispin dan Pa Yohanes. Kebetulan, kami tidak tahu arah jalan yang kami tempuh, karena Pa Yohanes dan Pa Thrispin tidak memberitahu kami lokasinya. Jadi, kami harus mencari dulu dan masuk ke gang-gang demi mencari rumah tersebut. Nama penduduk di sana juga mirip-mirip, jadi tambah susah pencariannya..

Walaupun kami berjalan sekuat tenaga, ada saja yang tersesat. Kami terbagi menjadi 2 kelompok. Kelompok yang pertama (anak-anak yang akhirnya ikut refleksi), adalah Ezra-Adit, Irfan-Beryl, Bimo-Radya dan Nadya-Ivy. Sedangkan kelompok kedua terdiri dari(yang nyasar), Geraldine-Viona, Bimo-Bernard dan Audrey-Talitha.

Sedih sekali nasib kami. Kami telah ikut berjalan cukup jauh, tapi salah satu di antara kami ada yang tidak kuat berjalan jauh cepat-cepat, jadi kami berjalan perlahan-lahan. Tiba-tiba, kami ketinggalan rombongan.. Tapi untung saja saya mendengar suara-suara teriakan dari bawah. Ternyata, Bimo dan Bernard tertinggal di belakang karena harus naik-turun tanjakan dulu. Ada untungnya juga kami bertemu dengan mereka, jika tidak, kami (para perempuan yang tersesat), mungkin akan panik.

Setelah berkeliling-keliling, naik turun gunung, kami akhirnya menyerah saja. Kami kembali ke daerah kami tinggal dan “singgah” di rumah Mbah Parno (orang tua Geraldine dan Vio).

Langsung saja ke akhir hari , kami makan bersama orang tua kami masing-masing. Setelah makan, kami di ajak untuk mengikuti pertemuan lingkungan santo fransiskus yang rutin di lakukan oleh lingkungan ini setiap mereka kedatangan anak-anak yang hendak menetap di sana dalam kurun waktu tertentu.

Kami diminta untuk memperkenalkan diri dengan menyebut nama kami dan panggilannya serta pekerjaan orang tua kami dan alamat asli kami.. Ada salah satu di antara kami yang memperkenalkan diri dengan sangat polos apa adanya. Ya, malam itu akan selalu menjadi suatu kenangan bagi kami. Di mana teman kami mempermalukan dirinya sendiri.

Continue reading Live In